Menggambar; Hobi Murah yang Menyenangkan

Sepotong Cerita Notebook Luna

 

Kalau boleh menoleh ke masa lampau lebih jauh, aku mau melakukannya lalu aku akan menceritakan satu rahasia yang masih tersimpan rapi di laci sana.

Ada satu rahasia yang belakangan ini meminta dibuka kembali kunci lacinya. Mungkin sudah pengap karena selama itu ia merajut jaring laba-laba di sana. Maaf agaknya sureal ya permulaan tulisan ini. Aku ingin membawa kalian mampir ke dunia fantasiku dulu sebentar. Tidak lama, nanti kalau terlalu jauh aku tidak bisa menolongmu.

Baiklah, kita kembali mendarat ke kehidupan nyata. Satu rahasia yang aku maksud adalah sebuah cita-cita kecil yang belum pernah tersentuh apapun. Cita-cita bisa menjahit buku serta membuat notebook dari tanganku sendiri, itulah yang belakangan ini telah mampu aku realisasikan. Mungkin kedengarannya hal yang sangat biasa, tapi bagiku ketika aku bisa merawat hal kecil yang aku suka hingga bisa menumbuh kembangkannya percayalah itu sungguh membahagiakan.


Kata orang, bahagia itu tanggung jawab masing-masing dan bahagia diciptakan oleh kita sendiri, bukan? 

Nah, itu salah satunya. Bisa menjahit jilid notebook sendiri menjadi bentuk bahagiaku. Dalam prosesnya yang otodidak, tentu tidak secara instan langsung mahir. Sementara ini, semua prosesnya dikerjakan sendiri alias tradisional.

Ada fase-fase percobaan yang gagal berulang kali. Hingga aku bisa membuat belasan notebook berukuran kecil atau setara ukuran A6. Selain masih mempelajari jenis-jenis jahitan, aku juga mengasah konsep gambar untuk sampulnya. Aku menyukai langit, aku menyukai awan, dan aku menyukai bulan. Jadi, aku menamai notebook-ku dengan Notebook Luna. 

Sedikit bicara Luna. Bagiku, Luna bukan sekadar bermakna bulan atau benda di angkasa yang dipuja puji banyak orang. Namun aku menyimbolkannya sebagai fase dalam hidup. Jika bulan mempunyai siklusnya dari bulan sabit hingga purnama, maka dalam berkehidupan manusia pun sama halnya mempunyai fase jatuh bangun, gelap terang, juga suka dukanya. Dan aku ingin merayakannya bersama-sama, membersamainya dalam petualangan masing-masing dengan menulis di Notebook Luna. 

Dimulai sejak Desember sebagai penutup akhir tahun kemarin—yang rasanya patah hilang tumbuh embuh—aku menciptakan bahagiaku. Sekadar minum es americano buatan sendiri, lalu disusul membuat Notebook Luna yang sudah berada di rumah yang tepat. 

Esok, giliran beberapa cita-cita kecilku lain yg akan terbit. Tapi bikin Notebook Luna ini akan tetap beredar lagi dan lagi. 🙌

Komentar